Ini adalah rangkuman sebuah drama yang dibuat oleh Kyki waktu kelas 9. Menurutku, a really really great story. Dan dibuat half-comedy dan disesuaikan dengan pola pikir remaja atau bisa juga anak-anak. Tapi aku hanya akan menulis garis besarnya saja.

Seorang lelaki bernama i, diperbudak oleh seorang Belanda. i kecil amatlah menderita. Majikannya sangat kejam dan suka menyuruh yang tidak masuk akal. Misalnya, membuat es teh manis hangat tanpa gula. Bertahun-tahun i diperlakukan dengan amat buruk, tapi i tetap bertahan.
Sampai akhirnya, bangsa Jepang datang. i sangat senang karena ia merdeka dari tuannya, Belanda. Namun, perlakuan si tuan baru pun tidak lebih baik daripada si tuan lama. i pun berjuang demi kemerdekaannya, sampai pada momen dimana bangsa Jepang bermasalah dengan bangsa Amerika. Disaat itulah i kecil mencari kesempatan untuk bebas, dan dia berhasil. “Aku MERDEKAAAAA!” Ya, i kecil kini telah bebas dari belenggu majikannya.
Tahun berlalu, I menjadi pengusaha kaya yang sukses. Namun, perlakuannya terhadap pekerjanya tidaklah berbeda dari perlakuan majikannya dulu terhadap dirinya. Tapi ia tidak peduli, ia masih kaya dan akan terus menjadi I yang kuat, besar, dan kaya. I besar sangat menikmati kekayaannya.
Tahun berlalu, seorang wanita muda lewat di depan etalase toko, kemudian memberikan sedikit uang kepada tangan yang menjulur. Rupanya tangan itu familiar bagi wanita itu, ia pun berkata, “Siapakah anda? Anda bukannya I? I besar yang sangat kaya dan kuat? Apa yang terjadi pada Anda? Mengapa Anda kembali menjadi i kecil yang lemah? Siapakah Anda sebenarnnya?” lelaki tua renta itu menjawab, “Aku i… I.. In-Indonesia…”
End Of Story

Cerita aslinya tidak seperti ini, lebih lugas dan nyata. Serta diberi sentuhan komedi dan bahasa yang dipakai sangat mudah dimengerti. Script ini menjadi yang terbaik dikelasku. Memang sangat bagus sih, begitu jujur.

Melihat kembali Indonesia, memang miris ya. Sekarang ini, krisis ekonomi kembali terjadi. Tapi apa yang terjadi (lagi)? Terjadi bentrok disana sini. Keadaan keamanan pun tidak karuan. Mahasiswa berdemo, tapi dengan tindakan anarkis. Tindakan anarkis didefinisikan sebagai tindakan yang merusak, dan merugikan kepentingan umum. pegawai negri kan umum juga, sama sama warga negara kan. apa itu nggak ngerugiin? apa itu bukan tindakan anarkis? berapa banyak sih kerugian akibat tindakan “non-anarkis-tapi-berdemo”? nggak ngerasa ngerugiin siapa siapa ya? Oh ya kan alasannya membela rakyat ya. Tapi masyarakat sekitar aja nggak suka kok dengan tindakan itu, serem kali. Kalo ada angin bertiup terus kita ikut kebakar dari api bakar2an mobil, gimana?
Lagian kontrol hukum di Indonesia juga udah nggak ada. Mahasiswa hukum juga kebanyakan maunya jadi pengacara, bukannya mengubah hukum Indonesia jadi lebih baik. Hukum Indonesia belum bisa membuat masyarakat mematuhinya. Jadi apa yang salah? sistem hukumnya? atau rendahnya kepekaan masyarakat?

Yah itu sih baru tindakan masyarakatnya (baca: pendemo tak bertanggung jawab). Ya kalo masyarakatnya aja udah gitu, gimana yang di atas sana? that’s why Indonesia nggak pernah maju, karena dia atas sana, banyak orang-orang yang mentingin diri sendiri, memperkaya diri sendiri. Padahal di bawah, masyarakat melongo minta bantuan. Yang di bawah juga sama nggak tau dirinya kan, mentang-mentang di bawah, maunya minta, nggak mau berusaha.
waktu itu aku mengalami kejadian lucu, nggak lucu sih, malah bikin geregetan dan geleng-geleng kepala. bukan aku sih yang mengalami, tapi ayahku. Ayahku lagi nyetir, semobil sama temennya. terus di lampu merah biasalah ada anak kecil minta minta. terus dikasih sama temennya bokap gue, 500 perak. wah gila, lumayan tuh. biasanyakan seratus atau duaratus. lagian 500 perak kan berharga bisa buat beli aqua gelas kan. And you know what? that sadistic cruel and disgusting little girl REFUSE IT. GILA udah minta, bahkan dia nggak melakukan apapun untuk kita, menyanyi ecek-ecek pun enggak, dikasih, malah NOLAK. IH, kalo aku yang disitu, aku bakal maki-maki bakal marah abis-abisan. dia nggak bersyukur apa, punya kaki sama tangan buat kerja, punya badan yang sehat buat jalan; malah dipake buat melongo dan minta minta; dan lebih parahnya, dia nggak bersyukur dikasih 500 and asking for MORE. akhirnya temennya ayahku ngasih 1000 dan baru diterima. entah deh, bilang makasih apa enggak. PARAH ABIS YA. di atas mental tempe, di bawah mental kentang. IH.

Dan ketertinggalan negara dalam membangun fasilitas, tingginya tingkat kriminalitas, tingginya tingkat polusi juga, minimnya kebersihan yang dijaga, dan lain-lain (list nya panjang bener kan pasti) membuat many Indonesians hate Indonesia. Aku sendiri juga, several things (well okay, okay, many!) tapi aku nggak sepenuhnya benci Indonesia. Selain fisiknya (gila gila gila, aku mau banget keliling Indonesia semuanya bagus-bagus!), Indonesia sebenarnya mempunyai potensi yang tinggi. Multi-kebudayaan membuat Indonesia dapat mencampur kekuatan dari masing-masing budaya untuk menciptakan budaya yang bagus. Yah sebenernya, rancu juga sih nyebut budaya Indonesia. Coba, yang mana sih budaya Indonesia? yang ngangguk-ngangguk kalo ketemu dan senyum mesem-mesem? itu mah Jawa. Yang lantang bicaranya dan nggak mau kalah? Itu mah Batak.
Ya emang buat apa sih cinta negara yang jelek? Kalo bisa milih juga mungkin aku nggak milih Indonesia sebagai kewarganegaraanku. Tapi, ini yang kita punya; sebuah negara yang menuntut kamu untuk bekerja keras demi tercapainya kemajuan. Buat apa sih cinta sama negara yang ngebikin lo nggak maju? Tapi apakah kamu bisa ngebuat negara ini maju? Atau cuman sekedar numpang tinggal and do nothing untuk Indonesia? Mau kamu disini, mau kamu nggak disini, nggak ada bedanya kalo kamu juga nggak melakukan apa-apa untuk negara ini. that’s what my father said. “Kamu nggak usah lah tinggal disini, semakin lama semakin sulit. Kamu juga nggak bakalan bisa apa-apa kalo disini, sibuk untuk diri sendiri, karena survive disini makin lama makin sulit. Jaminan untuk hidup berkecukupan pun semakin menurun. Mendingan tinggal di negara lain, sehingga kebutuhan untuk kamu pun bisa terpenuhi, so that you can give something for this country. Kamu belajar yang pinter, dan ilmu kamu kamu terapin di sini. tapi nggak usah tinggal disini kalo bisa. Jangan kayak saya, tinggal disini numpang tinggal aja, protes melulu gara-gara harga barang naik melulu, tapi nggak bisa berikan apa-apa untuk negri ini.”

So, shut your mouth, and do something!